Kamis, 08 Maret 2012

Pagaruyung Wibawa


 Oleh  : White Lotus (Kader MAP)

Disisa akhir tenaga yang saya miliki, saya tetap berniat untuk mencoba menorehkan cerita kami, para madya praja Kampus Sumbar yang baru saja melaksanakan kegiatan pembaretan.  Acara pembaretan merupakan acara yang sudah menjadi tradisi bagi kampus IPDN, dimana diharapkan agar para praja dapat menemukan jati dirinya sebagai seorang praja dan dapat mendapatkan kehormatannya lewat sebuah baret sebagai seorang calon pamong praja. Dan untuk kali ketiga ini di IPDN Kamus Sumbar akan melakasankan serangkaian kegiatan pembaretan Madya Praja Angkatan XXI IPDN Kampus Sumatera Barat yang diselenggrakan pada tanggal 18-19 Februari 2012.
Sebelum dimulainya acara pembaretan ini di  IPDN Kampus Sumbar telah diadakan program menggunakan Pakaian Dinas Lapangan bagi Satuan Madya Praja  selama kurang lebih 3 minggu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar para madya praja  dapat terbiasa dengan menggunakan pakaian Dinas Lapangan dengan atributnya, seperti penggunaa sepatu PDl sehingga nanti dalam pelaksanaan kegiatan dapat meminimalisir adadnya hal- hal yang tidak diinginkan. Adapun rangkaian kegiatan yang akan dilewati adalah yang pertama yaitu dengan menempuh perjalan kaki sejuah kurang lebih 45 km (Jalan Juang) dari kampus IPDN Sumbar / Baso, Kabupaten Agam menuju ke Bumi Perkemahan Istano Pagaruyung  Kabupaten Tanah Datar. Kedua dilanjutkan dengan kegiatan Kemah Juang di Bumi Perkemahan Istano Pagaruyung Kabupaten Tanah Datar, dan terakhir ditutup dengan kegiatan pendakian Bukit Patah  ssekaligus Pembaretan.
Dalam serangkain kegiatan pembaretan ini, untuk dapat memperlancar jalannya kegiatan, maka kami para madya praja dari 195 orang dibagi menjadi 13 kelompok, sehingga masing- masing kelompok berjumlah 15 orang.
Dan dari masing-masing kelompok yang berjumlah 15 orang tersebut terdiri dari 4-5 madya wanita praja dan selebihnya madya praja putra. Adapun rangkain kegiatan pembaretan ini  dimulai pada hari Sabtu, 18 Februari 2012 sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Dimulai dengan adanya bunyi alarm stealing bagi para praja untuk berkumpul sesuai dengan tempatnya masing2 disumber suara alarm.  Setelah adanya bunyi alarm stealing, maka kami langsung menuju ketempat sumber suara dan menempati tempat masing- masing, putra berada didepan wisma putra dan begitu juga dengan putri sama dengan hal demikian. Lima belas  menit kemudian dilanjutkan dengan persiapan kelengkapan baik itu perlengkapan pribadi maupun perlengkapan kelompok. Kami kemudian berkumpul menjadi satu baik putra  maupun putri untuk menempatkan diri dalam lapangan apel pelepasan kegiatan Pembaretan, dimana dalam hal ini dibuka secara resmi oleh Bapak DR. Drs. H Ismail Nurdin, M.Si selaku Direktur IPDN Kampus Sumatera Barat sekaligus  kami dilepas oleh Beliauuntuk memulai  jalan juang.

Jalan  Juang
Tepat pada pukul 03.30 WIB kelompok pertama yang diketuai oleh Madya Praja Aji Nur Cahyo (Jawa Tengah) memulai perjalanannya. Setelah selisih kurang lebih 15 menit pemberangkatan dilanjutkan dengan kelompok selanjutnya sampai pada kelompok nomer 13. Yahh....jika  dipikir saja rasanya sulit mungkin untuk dapat melalui jalan juang ini, bayangkan kami menempuh sekitar kurang lebih 45 km dengan harus melewati 7 pos dengan jalan kaki. Namun sungguh yang saya tahu dan yakini bahwa dari masing- masing pribadi dari kami berniat untuk tetap berjalan, tetap bertahan, dan pantang asa untuk melanjutkan perjalanan juang ini. Bahkan sekalipun sudah melepuh jari- jari kaki dan  sudah mulai pendek langkah kaki ini, sekalipun kami sudah terseok- seok, tertatih- tatih, dan dengan berbagai cara dan usaha tapi tetap berusaha untuk melanjutkan perjalanan, saya sendiri begitu bangga terhadap mereka yang tetap mampu bertahan bahkan dalam situasi dan kondisi buruk sekalipun. Sayapun berkesempatan untuk mewawancarai seorang rekan saya, sebut saja “MMS” dia berkata bahwa “ ya Allah untuk sampai kepada kegiatan yang ketiga, kok rasanya sangat sulit ketika melalui kegiatan jalang Juang ini, Sungguh kaki terasa akan lepas, ingin menyerah tapi ada rasa pantang menyerah, sehingga saya  hanya bisa pasrah sambil bersabar sambil berharap semoga dapat cepat sampai”. Itulah yang dilontarkan langsung dari rekan saya yang padahal biasanya dia selalu mengeluh mengenai hal- hal yang berbau jalan dan lari.
  Hebat, Amazing, Luar Biasa dan Rasa Tidak Percaya, ketika kami mulai melihat adanya sebongkah  rumah minang yang megah dan indah, karena ketika kami melihat adanya rumah minang yang begitu anggun dan mempesona itu, itu juga merupakann saat yang paling bahagia karena itu pertanda bahwa Bumi Perkemahan Istano Pagaruyung sudah didepan mata. Rekan praja memang tidak hanya bisa melewati tapi mereka benar- benar mampu untuk berjuang, selain berjuang melewati medan dan keadaan yang ada, mereka mampu untuk melawan hawa nafsu mereka sendiri untuk menyerah. Dan sungguh  perjalanan kurang lebih  45 km sangatlah tidak singkat karena dibalik itu ada sebuah  perjuangan dan pengorbanan yang rrekan praja lakukan
Kemah Juang 
Setelah kurang lebih perjalanan selama 12 jam-an, akhirnya sekitar pukul 17.00 WIB kelompok urutan terkahir akhirnya tiba di Bumi Perkemahan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemasangan bivak dan ishoma. Karena terhalang  hujan maka acara api unggun baru dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB dan setelah acara api unggun selesai diteruskan  dengan adanya renungan dari Bapak Afiyendra, SH. MH. sampai  sekitar pukul 22.30 WIB dan baru kami dipersilahkan untuk istirahat. Yahh bagi kami yang berjumlah 5 orang putri dikelompok kami maka kami juga harus  tidur berlima dalam satu bivak tersebut, walaupun  hujan tapi dari  kami  kebanyakan menerima keadaan yang ada dan mencoba untuk tidak mengeluh dan mempedulikan sekalipun dari kami banyak yang tidur dengan pakaian yang basah, tidur  dengan  bivak yang kebanjiran air hujan, dll. Karena yang ada dipikiran dan benak kami masih ada satu kegiatan yang menjadi puncak dan moment paling penting dari seluruh rangkain kegiatan  ini yaitu adalah pendakian bukit dan pencarian baret, maka kamipun hanya mencoba untuk bisa beristirahat secara maksimal dan total sehingga kegiatan esok harinya dapat  kami ikuti.
Pendakian Bukit Patah dan Pembaretan
Keesokan harinya acara dimulai  pada pukul 06.30 WIB setelah semua sudah melakukan makan pagi dan melakukan pembersihan serta membereskan bivak masing- masing. Uhmmmm.... kegiatan yang ketiga ini adalah kegiatan yang paling penting, karena tanpa kegiatn ketiga ini, semua yang dilakukan dari pertama kita jalan  dari Kampus sampai keBumi Perkemahan ini tidak akan ada artinya. Acara pendakian Bukit  Patah ini dimulai dari kelompok nomor 13 sekitar pukul 07.00 WIB. Selang 5-10 menit dilanjutkan dengan pemberangkatan kelompok lain sampai pada kelompok nomor 1.
Di pendakian Bukit Patah ini terdapat 3 pos  yag harus kami lalui, dimana ternyata  pendakian yang kita lakukan  bersamaan dengan adanya kegiatan Olah Raga Buru Babi, jadi dari kami semua diharapkan untuk dapat menjaga keselamatan pribadi maupun keselamatan kelompok. Dari ketiga pos yang dilalui, masing- masing pos memiliki sebuah tantangan tersendiri, dimana pos pertama kita diuji untuk dapat mendaki dengan menggunakan tali dengan medan yang cukup sulit dan dengan jarak yang cukup jauh. Pos kedua kami diuji untuk mau dan  mampu melewati kubangan tanah becek sejauh kurang lebih 10 meter, dan dipos ketiga kami diuji kekbersamaan dan kekorsaan kami lewat sebuah permen. Diakhir perjalanan kami akhirnya diberi kesempatan untuk membersihkan diri di sebuah gorong- gorong. Tanpa melihat bentuk warna air digorong tersebut kami langsung membersihkan diri dan pakaian kami yang kotor karena lumpur, setelah itu kami harus melewati gorong- gorong dengan berbagai cara yang diperintahkan oleh senior kami baru kami dapat melanjutkan perjalanan menuju kebumi perkemahan kembali. Tapi diluar itu semua sungguh untuk mendaki sebuah bukit sejauh 10 km dengan waktu kurang lebih 4- 5 jam kami benar- benar merasa puas dan senang, karena setelah pendakian bukit tersebut, ada sebuah harapan yang jelas dan terang akan adanya  sebuah tanda kehormatan  itu bagi kami.
            Setelah semua kelompok kembali kebumi perekemahan, kami langsung diperintahkan untuk membentuk  lingkaran besar dan makan siang bersama- sama. Dan setelah acara makan siang selesai kami langsung diperintahkan untuk mencari baret kami masing-masing disebuah lahan area sekitar bumi perkemahan dan akhirnya dari kami semua lagsung menyerbu dan mencari baret tersebut, baik itu baret praja maupun baret menwa. Yahhh sekitar 15 menit setelah itu kami diperintahkan untuk kumpul kembali  dan mempersiapkan diri untuk mengadakan upacara pemasangan baret sekaligus untuk meutup secara resmi kegiatan pembaretan ini. Bapak Direkturpun berkesempatan hadir untuk menutup dan memasangkan baret kepada perwakilan dari kami. Zulfikar Ilham dan Savita Vintari menjadi perwakilan pemasangan baret praja sedangkan Ari Bintang Yoga dan Maya Mustika Sarimenjadi perwakilan pemasangan baret. Pada amanat yang disampaikan oleh Bapak Direktur setelah pemasangan baret kepada perwakilan dari kami, beliau menympaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia dan pelaksana penyelenggara yang dapat membantu pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan pembaretan sehingga dapat berjalan lancar. Selain itu Beliau juga menyampaikan bahwa beliau merasa bangga terhadap kami yang sudah dapat mengikuti seluruh rangkaina kegiatan yang sudah direncankan, dan pada akhirnya Beliau memberikan sebutan untuk pembareetan Madya Praja Angkatan XXI IPDN Kampus bukittinggi ini dengan sebutan “ Pagaruyung Berwibawa” . Bercampur rasa yang kami rasakan, senang, bangga, capek, duka, terharu, yang ada dibenak kami masing-masing. Ada kebanggan dan kepuasan tersendiri setelah kami mendapatkan tanda kehormatan  kami sebagai  seorang praja.  Yah pembaretan ini  memang tidak untuk diulang namun akan selalu kami kenang sebagai cerita panjang perjalan kami sebagai  Praja Angkatan XXI , yah kan selalu teringat  dibenak kami dan tak terelak kebanggan kami pada Angkatan XXI.
Akhir kata saya mengucapkan selamat bagi para Madya Praja Angkatan XXI Kampus Sumatera Barat, yang saya anggap rekan- rekan sekalian adalah parapejuang sejatiJalan Perjuangan selalu dirintis oleh orang- orang yang berilmu, dikerjakan oleh orang-orang ikhlas, dan dimenangkan oleh orang- orang yang berani. Pejuang Sejati tidak selalu hadir pada orang yang cerdas, dan tidak pula pada orang yang hebat. Namun mereka yang tetap bertahanlah yang layak disebut Pejuang sejati. Mereka akan selalu belajar dan belajar bari setiap masalah yang dihadapi, dari setiap moment yang dialami hingga suatu hari ia dapati dirinya telah berubah menjadi lebih sabar, lebih ikhlas, lebih berani dan lebih memiliki tanggung jawab moril yang besar bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, karena Ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba dan yakin sepenuhnya bahwasanya ALLAH-lah Yang akan Mengawasi dan Melihat dari seluruh hasil karya perjuangannya.  Selamat Berproses Madya Praja Angkatan XXI IPDN Kampus Sumatera Barat, karena semakin tinggi layangannya,maka harus waspada dengan angin kencang dengan tali yang terpancang kuat.  terima kasih

Baret ? ? ? Apa Kata Mereka ?



Oleh : DAN ( Kader MAP )
klik disini untuk Gallery Pembaretan
Inilah kisah…   Tentang mereka yang tetap tersenyum di sela-sela rasa sakit, harus marah dan menangis saat merasakan sakit, tersenyum di saat terik matahari yang mencari celah tubuh untuk membakar kulit dan saat dinginnya udara malam menusuk sampai ke tulang raga yang sedang mencoba mengembalikan separuh kekuatannya yang sempat terkuras demi sebuah simbol kewibawaan…
Inilah cerita…   Tentang perjalanan panjang, tentang tangis dan tawa, tentang raga dan batin yang sedang lelah, tentang kebersamaan, tentang pendakian, tentang air dan api, tentang pencarian dan semuanya…
Tentang Sabtu-Minggu (18-19/02) di bawah kaki bukit Bungsu, Istana Pagaruyung, Kecamatan Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar.
            Yang saya maksudkan adalah kegiatan pembaretan Madya Praja Angkatan XXI IPDN Kampus Sumatera Barat.  Banyak cerita tertinggal bukan untuk dilupakan namun untuk dikenang. Pertanyaannya adalah apa yang mereka dapatkan dari seluruh cerita itu? Apakah hanya sekedar serententan cerita untuk dijadikan kiasan seperti di atas… mudah-mudahan bukan seperti itu dan tentu saja tidak… Apa kata mereka?
So, check it out!!!

MWP. Nurul Anisha
“Dengan kegiatan pembaretan melalui proses yang begitu panjang dan memeras keringat bahkan menetaskan air mata (huuu…) saat pendakian, tidak mengurangi semangat dan motivasi saya sebagai Praja untuk melaksanakan kegiatan pembaretan tersebut hingga akhir.”

MP. Marvil Glorio Parengkuan
”Pertama, pembaretan ini merupakan pembangkit semangat walaupun kegitannya membuat saya capeh dan menguras keringat bahkan lama-kelamaan (jujur saja) kegiatan ini  membuat saya dongkol, tetapi daya juang teman-teman kelompok membuat kedongkolan berubah menjadi kegembiraan. Walaupun ada saja senior yang mengusili kami, kami tetap menerimanya karena pembaretan ini tidak berkesan jika hanya berjalan jauh saja dan tanpa rintangan. Kedua, setelah sampai di bumi perkemahan kami membangun tenda. Meski harus tinggal di tenda yang kecil dan air hujan yang masih bisa membasahi kami saat tidur, kami tetap bersabar dan tidak akan menyerah karena kami telah berjuang sampai sejauh itu. Walaupun kaki susah untuk melangkah kami tetap mengikuti malam api unggun. Awalnya kami merasa dongkol dengan kegiatan malam api unggun ini, tetapi dengan rekreasi yang ada malah membuat kami masih bisa tertawa. Begitu pun dengan semangat pendakian kami sepanjang hari.”
Setelah mendapat baret yang kami perjuangkan, saya teringat akan doktrin mengesankan dari seorang senior, bahwa “Senior yang berhasil itu adalah senior yang mampu membuat junior-juniornya lebih baik dari seniornya.”


“Pembaretan kali ini sangat mengesankan walaupun dengan berbagai kegiatan yang melelahkan dan sedikit mendongkolkan namun tetap bermakna luar biasa.”

Asyik, seru, ramai dan walaupun saya masukambulance saat jalan juang, yang jelas semangat saya tetap ada sampai akhir kegiatan.  Tapi masih ada sedikit kekecewaan, “Ade pe baret satu lagi MANAAA???

MP. Denis Dwi Anggara
“Banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan ini…jiwa Corps Satuan, semangat juang, kekuatan mental dan fisik, serta kesabaran. Semoga kegiatan ini mampu membuat  pencarian jati diri kita semakin terlihat ke depannya sebagai seorang Praja sejati.

“Kegiatan pembaretan sangat mengesankan yang saya dan rekan-rekan angkatan saya dapat!!! Kegiatan inilah yang juga sangat membutuhkan jiwa “corsa “ kami. Gilaaaa!!!

Ternyata kegiatan pembaretan ini tak semudah yang kita kira, terutama perjalanan panjang yang harus ditempuh. Untuk mendapatkan sebuah baret ternyata butuh sepasang kaki besi, hhhe…

Presiden Di Indonesia Yang Jarang Diketahui



MUNGKIN masih banyak dari kalian yang beranggapan bahwa Indonesia hingga saat ini baru dipimpin oleh enam presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun hal itu ternyata keliru. Indonesia, menurut catatan sejarah, hingga saat ini sebenarnya sudah dipimpin oleh delapan presiden. Lho, kok bisa? Lalu siapa dua orang lagi yang pernah memimpin Indonesia?
Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja.

Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari RepublikPada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat

             Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakabahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".

             Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan" . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.



          Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

            Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

           
         Dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8. Urutan Presiden RI adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.(bree)

Kelompok Satu Kader MAP                                    

Salahkah Dengan SWAT ? ?



Malam yang dingin bertemankan angin yang sepoi-sepoi mengharuskan kami untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang praja yaitu apel malam.Rasa malas dan lelah dalam kegiatan sehari-hari menemani langkah kami menuju tempat apel.Tapi, siapa sangka malam ini menjadii apel yang berbeda dari  yang sebelumnya.Kita dikumpulkan di lapangan depan kelas untuk petunjuk teknis pengkaderan organisasi. Ditengah penyampaian itu tiba-tiba ada bunyi sirine.Dalam waktu lima menit kami sudah harus berkumpul lagi ditempat semula dengan memakai pakaian dinas lapangan (PDL). Riuh gemuruh tunggang langgang kami semua bertaburan menuju barak untuk melaksanakan perintah dari ketua pengkaderan (1/3). 

            Disisi lain, ditengah hiruk pikuk kami melaksanakan stelling ternyata ada sebagian praja yang dengan biasanya melakukan aktivitas dengan santainya,melakukan Semir, Setrika, Brasso (SSB) sambil mendengarkan musik. Siapakah dia??? SWAT!! itulah sebutan yang kami berikan kepada praja yang gugur di tahap N-1.SWAT merupakan sekelompok praja yang memilih untuk tidak ikut dalam pengkaderan, mereka mempunyai alasan-alasan tersendiri untuk itu.Sejauh ini Swat mendapat pandangan-pandangan negatif padahal belum tentu semua praja yang Swat itu tidak mempunyai kemampuan dalam berorganisasi ataupun hal lainnya.”SWAT adalah pilihan” itulah semboyan yang mereka berikan.


            Prestasi-prestasi bukan hanya dapat diraih oleh praja-praja yang aktif baik yang aktif dalam organisasi maupun yang aktif di kelas, tetapii SWAT juga dapat memberikan kebanggaan untuk kampus ini.Seperti hal nya dengan  NP. SILAS BONAI asal pedaftaran dari Nabire, Papua.Dia merupakan salah satu anggota dari tim SWAT, tetapi dia juga sudah menjadi kebanggan bagi kampus IPDN Sumatera Barat karena kepiawaiannya dalam bermain Bola.Berkat dia IPDN kampus Sumatera Barat telah menjuarai berbagai ajang turnamen sepak bola.Selain itu ada juga tim Swat yang telah mengaharumkan nama lembaga yaitu MPIswandi Putra asal pendaftaran Riau berkat kemahirannya dalam membaca Al-Quran dia telah mampu mewakili kampus ini dalam setiap acara keagamaan dan dia juga cukup aktif dalam bidang Kerohanian islam (Rohis) IPDN kampus sumatera Barat.Tidak semua pandangan negatif dianggap hal negatif ada sisi yang positif yang dapat mereka berikan hanya saja.
            Itulah dua sisi  berbeda yang  kami temukan disini, tetapi mempunyai arti dan pengaruh masing-masing.Aktif itu memang sesuatu yang baik tapi bukan berarti mereka yang Swat tidak baik, mereka juga bisa berprestasi karena Swat ialah  pilihan.